Zulkifli: Jangan Bawa Pancasila Untuk Mengkotakan-Kotakan

Zulkifli: Jangan Bawa Pancasila Untuk Mengkotakan-Kotakan
 Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (istimewa)
 27 Oktober 2017 15:56:39 wib
Share :

Kabar7, Solo - Senang tidak senang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), telah berubah menjadi Undang-Undang (UU). Hal ini tentu harus diterima oleh semua pihak.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, menjadi pihak yang sudah menerima Perppu menjadi UU Ormas. Diketahui bersama, partai Zulkifli itu merupakan salah satu partai yang menolak Perppu Ormas jadi UU.

Mengingat hal tersebut, Zulkifli menuturkan agar semua pihak tidak membuat kubu-kubuan antara yang pro dan kontra soal UU Ormas. Jadi jangan dipandang yang mendukung Perppu jadi UU itu adalah Pancasila. Sedangkan yang menolak berarti anti-Pancasila.

"Jangan bawa Pancasila untuk mengkotak-kotakkan orang lain. Yang setuju Perppu (ormas) dinilai Pancasila. Yang tidak setuju dianggap tidak Pancasila. Itu tidak benar," katanya usai mengisi acara di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (27/10/2017).

Terlepas dari itu, Zulkifli menyoroti ada yang perlu direvisi dari UU Ormas tersebut, terlebih soal mekanisme pembubaran Ormas. Katanya dia, suatu Ormas yang ingin dibubarkan harus tetap melalui proses hukum yaitu lewat pengadilan.

Jangan sampai mekanisme pembubaran Ormas itu hanya berdasarkan pandangan pribadi seseorang atau kelompok terhadap Ormas yang ingin dibubarkan.

"Bayangkan kalau pembubaran ormas hanya diterjemahkan satu menteri, hayo bagaimana coba. (Misal) saya menteri, ah ini ormas enggak bener, bubarkan. Kita kan negara hukum, mesti ada pengadilan," ujarnya.

Selain itu, terdapat dasar pemikiran yang kurang pasti. Misalnya mengenai paham yang bertentangan dengan Pancasila.

"Ini terlalu luas. Atheisme, komunisme, paham yang bertentangan dengan Pancasila, yang menerjemahkan tunggal. Dan (hukumannya) tidak hanya ketua ormas, anggotanya, atau yang terkait, atau dikait-kaitkan, kan terlalu luas. Itu yang perlu diperbaiki," tuturnya, dikutip dari Detik.

(**)