Tito: Yang Menggangu Pukul

Tito: Yang Menggangu Pukul
 Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (dok. kb7)
 20 November 2017 14:58:27 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan kalau pihaknya tak segan-segan untuk menindak tegas pihak atau kelompok yang mencoba ganggu keberagaman dan kebinekaan Indonesia.

"Rule of law juga harus kita tegakan, harus persuasif, tidak bisa, penegakan hukum harus tegas. Bukan kita anti agama tertentu, anti kelompok tertentu, enggak. Tapi siapa pun yang ganggu keberagaman dan kebinekaan, yang sudah kita nyatakan kita adalah bangsa yang beragam, berbeda suku, agama dan ras," kata Tito di gedung BEI, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (20/11/2017).

"Yang mengganggu 'pukul', kira-kira begitu," sambungnya.

Tito menilai, banyak masyarakat saat ini cenderung menganrtikan demokrasi sebagai kebebasan. Padahal, ada kewajiban yang harus dipenuhi agar demokrasi tetap berjalan aman dan damai.

"Nah menghadapi situasi seperti ini, saya berpendapat bahwa stabilitas politik dan keamanan ini, konflik-konflik yang potensial terjadi harua dikelola, semua mekanisne penanganan konflik secara proaktif harus diaktifkan," ucapnya.

yang akan menguatkan sistem kelembagaan pemerintahan. Dengan adanya hal itu, masyarakat dapat berpartisipasi dalam menentukan arah pembangunan bangsa ini.

"Sehingga pemerintah tidak otoriter. Thats fine. Idealnya seperti itu," lanjutnya.

Sebaliknya, demokrasi ini memiliki dampak negatif jika diterapkan bagi masyarakat yang didominasi oleh lower class, dimana dalam hal ini demokrasi diartikan sebagai kebebasan untuk berbuat apa saja.

"Tapi persoalannya, yang perlu kita waspadai adalah demokrasi ini juga memiliki dampak negatif karena diterapkan pada masyarakat Indonesia yang masih didominasi oleh low class," ujarnya, dilansir dari Detik.

Menurutnya, demokrasi akan berjalan baik jika masyarakatnya telah didominasi oleh higher class. Dalam kategori ini, masyarakat akan memahami secara utuh konsep kebebasan berkumpul dan berserikat dalam berdemokrasi.

"Demokrasi yang baik kalau diterapkan di masyarakat yang didominasi oleh higher clasa karena mereka memahami demokrasi, mereka memahami hak-hak mereka, mereka memahami arti unjuk rasa, mereka memahami arti kebebasan berserikat dan berkumpul namun diterapkan dengan masyarakat dengan didominasi lower class, mereka yang kurang terdidik, mereka yang secara ekonomi less fortunate, kurang beruntung maka yang kita dikhawatirkan demokrasi diterjemahkan oleh mereka boleh berbuat apa saja," tuturnya.

(**)