REFORMASI UNTUK LULUSAN SLTA BERBAKAT

REFORMASI UNTUK LULUSAN SLTA BERBAKAT
  Penggagas Program Beasiswa Gerakan Indonesia 2030, Bimo Sasongko (dok. kb7)
 02 Mei 2017 13:36:41 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Reformasi Pendidikan dan terobosan bagi lulusan SLTA berbakat itu harus dilaksanakan menandai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2017. Durasi waktu sekolah, kegiatan belajar dan mengajar harus delapan (8) jam sehari.

"Reformasi pendidikan nasional, khususnya pengubahan jam belajar dan mengajar di sekolah minimum harus 8 jam sehari demi pengkualitasan hasil didikan anak didik, utamanya bagi pelajar SLTA berbakat," ujar Bimo Sasongko, Penggagas Program Beasiswa Gerakan Indonesia 2030, di kantornya Euro Manajement Indonesia, Senin (1/5/2017).

Mengutip Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, Bimo menyatakan, reformasi dan terobosan pendidikan bagi SLTA berbakat ini harus dimulai tahun ajaran baru 2017-2018.

Reformasi pendidikan, lanjutnya, memerlukan terobosan terkait kondisi lulusan SMA berbakat yang tidak terserap perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) karena kapasitas atau rasio kursi dan jumlah dosen untuk prodi tertentu masih kurang.

Melihat angka Hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2017, bisa dilihat masih banyak siswa berbakat yang tidak bisa masuk prodi yang diinginkan.

Jumlah peserta yang dinyatakan lulus seleksi pada 78 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia sebanyak 101.906 siswa. Jumlah tersebut hasil seleksi yang dilakukan Panitia Pusat dari jumlah pendaftar sebanyak 517.166 siswa.

Untuk itu, kata Bimo, perlu terobosan pelengkap atau penunjang reformasi pendidikan guna memberikan jalan seluas-luasnya kepada lulusan SMA berbakat untuk belajar di perguruan tinggi terkemuka di luar negeri.

Pendiri Euro Manajement Indonesia ini menuturkan, berbagai skema pengiriman siswa berbakat perlu dibuat, dari skema beasiswa dari negara lewat LPDP, beasiswa pemerintah daerah maupun pengiriman secara mandiri bagi yang orang tuanya tak memiliki kemampuan dana.

Bimo kini juga menjabat sebagai Ketua Umum IABIE (Ikatan Alumni Habibie). Ia mengingginkan, program Beasiswa Habibie di tahun 1992-1996 yang sukses dilakukan, bisa diadopsi dan disesuaikan dengan kondisi kekinian. Karena sangat disayangkan, tunas-tunas muda berbakat kehilangan kesempatan menjadi SDM yang hebat.

"Ironis, dengan jumlah penduduk pada 2016 sebesar 257,9 jiwa, hanya sekitar 60 ribu yang belajar ke luar negeri. Suatu rasio yang timpang jika dibanding dengan negara lain. Karenanya, Pengiriman siswa/mahasiswa ke luar negeri, adalah salah satu wujud kepedulian negara dan masyarakat dalam peningkatan kualitas SDM," kata Bimo, yang merindukan putera-puteri Indonesia Berjaya di negerinya sendiri bahkan sampai ke ujung dunia.

Tak heran kalau Bimo dan seluruh stafnya Euro Manajement Indonesia memberikan banyak kesempatan dan beasiswa belajar guna menyiapkan pengiriman pelajar hingga jurnalis untuk merasakan pendidikan di negara-negara besar.

Bimo mengingatkan semua pihak, utamanya pelajar Idnonesia jangan kalah dengan Negara lain untuk menempuh pendidikan di luar negeri.

Untuk itu, Bimo yang peduli pendidikan ini mengajak semua pihak menyadari akan kondisi pendidikan di Indonesia ini, serta mereformasinya demi menyiapkan kualitas SDM Indonesia ke depan.

"Para guru harus kreatif dan inovatif merangsang siswa membuat proyek ilmiah sederhana setelah pelajaran teori, serta mampu menhadirkan modul-modul proyek ilmiah sederhana beserta informasi pendukungnya," tutup Bimo.

(k-1)