Presiden: Media Sosial Kejam. Ya Memang Kejam

Presiden: Media Sosial Kejam. Ya Memang Kejam
 Presiden Joko Widodo (Istimewa)
 17 Oktober 2017 19:56:43 wib
Share :

Kabar7, Garut - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri Rakornas Pondok Pesantren Muhammadiyah di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, Jawa Barat, Selasa (17/10/2017).

Pada kesempatan tersebut, Jokowi bercerita tentang bebasnya media sosial di Indonesia yang tak dapat dikendalikan. Bahkan presiden negara lainnya juga mengeluhkan hal tersebut kepada Jokowi.

"Saya dikeluhkan oleh pemimpin negara lain. Saya enggak usah sebut negara mana. Presiden jokowi, media mainstream bisa kita kuasai, tapi media sosial tidak bisa. Ada presiden juga yang sampaikan, Presiden Jokowi, TV dan koran bisa dikuasai, tapi media sosial tidak bisa kita kuasai. Bertanya kepada saya bagaimana kalau di indonesia? media sosial kejem banget. Ya memang kejem," ujar Jokowi.

Ia menyebut media sosial kejam bukan tanpa alasan. Melainkan dia pernah difitnah dari media sosial yang menyandingkan dirinya dengan tokoh PKI DN Aidit dalam sebuah foto.

Jokowi menegaskan, foto tersebut jelas tidak benar karena dirinya baru lahir pada tahun 1961, sementara peristiwa yang di dalam foto itu terjadi pada tahun 1955.

"Tahun 65 saja waktu PKI dibubarkan saya masih balita. Ini maunya apa? Ya maunya membangun sebuah informaai yang di-miss-kan, dikelirukan," kata Jokowi, dilansir Tribunnews.

Oleh sebab itu, Presiden mengatakan salah satu cara menyaring informasi yang cepat di media sosial dengan pembangunan karakter, terutama kepada anak didik, termasuk para santri.

"Pembangunan karakter anak-anak didik kita dengan nilai-nilai agama, dengan nilai-nilai karakter Indonesia sehingga tidak terpengaruh oleh arus informasi yang akan mengubah budaya, perilaku, budi pekerti yang telah dimiliki oleh Bangsa Indonesia," ucap Jokowi.

"Tapi sekali lagi kalau media sosial tidak ada yang bentengi dan memagari, inilah fungsinya, pentingya pesantren Muhammadiyah untuk memberikan pemahaman yang benar kepada anak didik juga santri-santrinya," tuturnya.

(**)