Polisi Diminta Tuntaskan Kasus Bunuh Diri Benjamin

Polisi Diminta Tuntaskan Kasus Bunuh Diri Benjamin
 (*)
 10 September 2017 17:46:42 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Ikatan Keluarga Besar  Teon Nila Serua (IKB - TNS) mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kematian Benjamin Pelmelay yang diduga bunuh diri melompat dari lantai 25 San Francisco Apartemen MOI, Jakarta Utara, pada Jumat Malam (8/9/2017).

Seperti diberitakan sebelumnya, Polsek Kelapa Gading yang menangai kasus tersebut menduga korban bunuh diri dengan melompat karena depresi akibat masalah keluarga. Hanya pihak kepolisian tak menyebutkan secara rinci permasalahan yang dihadapi korban.

Namun IKB TNS menyatakan berlainan dengan kepolisian. Ketua 3 Badan Pengurus Pusat IKB TNS yang membidangi Hukum, Pendidikan, Tenagakerja dan Hubungan ke Kemasyarakatan, Nunu Melay SH, justru menduga korban merupakan korban pembunuhan berencana.

"Setelah melihat kondisi mayat dan dihubungkan dengan pernyataan pihak kepolisian sektor Kelapa Gading terkait keterangan beberapa saksi yang telah dimintai keterangan. Maka IKB TNS selaku organisasi kemasyarakatan yang mengayomi kepentingan masyarakat diaspora TNS yang berada di seluruh Indonesia menyampaikan sikap bahwa kematian Benjamin Pelmelay bukan murni bunuh diri, akan tetapi yang bersangkutan diduga meninggal karena pembunuhan berencana," ucapnya di Jakarta, Minggu (10/9/2017).

Hal tersebut disampaikan berdasarkan beberapa alasan yakni tubuh korban memperlihatkan lazim dari biasanya orang bunuh diri dengan cara menjatuhkan tubuh dari ketinggian.

"Dimana pada tubuh korban terdapat beberapa luka, baik luka sayatan maupun luka memar akibat benturan benda keras. Selain itu kepala korban yang hancur serta leher korban yang masuk kedalam tubuh korban," katanya.

Nunu melanjutkan, bahwa dari keterangan saksi Nova dan pacarnya, menerangkan bahwa sebelum korban menjatuhkan diri dari lantai 25, korban bersama dengan mereka dan terlibat menyelesaikan persoalan di antara mereka hingga terjadi kesepakatan serta adanya suasana nyaman.

"Dengan demikian korban tidak berada pada kondisi tekanan psikologis sebagai pemicu untuk bunuh diri," katanya.

Kemudian dari keterangan mereka berdua, dikatakan pula sebelum bunuh diri korban bersama mereka di lantai 25 jalan munuju ke lift. Lalu korban izin untuk kekamar mandi. Kemudian hal yang sama diulang lagi saat dia baru saja kembali dari toilet.

Ketika korban berada dalam kamar mandi yang kedua kalinya, dia menguncikan diri di dalam. Saat itu korban mencoba bunuh diri dengan cara menggantukan lehernya pakai switer yang digunakannya.

Tapi aksi itu gagal karena switer yang digunakan untuk menggantung diri tak kuat menahan beratnya beban tubuh korban dan akbirnya korban jatuh ke bawah.

Dari keterangan saksi diatas, kata Nunu, ada beberapa kejanggalan yaitu saat korban berulang kali izin untuk ke toilet, padahal korban diketahui tidak memiliki riwayat sebagai penderita diabetes.

Lalu jika korban ingin bunuh diri mengapa korban tidak langsung menjatuhkan diri, melainkan harus menggantungkan diri menggunakan switer yg dikenakannya.

"Latar belakang akademis korban yakni magister pendidikan. Sehingga bunuh diri sebagai jalan keluar dari persoalan yang membelit korban adalah sesuatu kejanggalan," lanjutnya.

Dari keterangan istri korban diketahui, korban memiliki persoalan pribadi dengan saksi Nova dan pacarnya. Nova selama ini dikenal sebagai wanita idaman lain dari korban. Persoalan antara korban dan Nova yaitu Nova pernah menuduh korban pernah mencoba melakukan pelecehan seksual kepada anaknya yang masih berusia 9 tahun.

Karena aksi tersebut korban dikenakan denda adat sebesar Rp.150.000.000 dan korban baru membayar 50.000.000 kepada saksi Nova.

Selain itu, terdapat pula kejanggalan dari keterangan Nova dan pacarnya. Keterangan yang dimaksud ialah pada saat kejadian secara kebetulan mereka bertemu di apartemen sodara Diana dilantai 25.

"Dari keterangan ini ada beberapa kejanggalan, bahwa korban memiliki riwayat persoalan pribadi dengan saksi Nova dan cinta segitiga antara Nova, korban dan pacarnya sehingga adalah sebuah kenaifan korban bertemu dengan saksi Nova," ucap Nunu.

Kemudian, lanjutnya lagi, kunci apartemen Diana dipegang oleh Diana, menjadi pertanyaan kenapa saksi Nova dan pacarnya berada di apartemen Diana.

"Sebelum ke apartemen Diana di lantai 25, korban bersama Diana dan pamanya makan malam di apartemen Paman nya di lantai 3, namun Diana tidak pernah menyampaikan bahwa saksi Nova dan pacarnya berada di apartemen nya," katanya.

Korban berani ke apartemen Diana karena korban dengan Diana tidak memiliki persoalan pribadi, dan juga relasi bisnis, sehingga korban tidak menaruh kecurigaan.

"Hal ini memperlihatkan bahwa diduga telah adanya rencana pembunuhan dengan menjadikan Diana sebagai fasilitator menghadirkan korban di apartemen san Francisco MOI," sambungnya.

Dari kasus posisi diatas, IKB TNS meminta agar pihak kepolisian terus mengusut tuntas kasus ini sehingga dapat menemukan motif dibalik kematian korban dan IKB TNS akan terus mengawal kasus ini sampai ditemukan titik terang.

(wem)