PERKARA WARISAN, PAMAN GUGAT PONAKAN

PERKARA WARISAN, PAMAN GUGAT PONAKAN
 Pengadilan Negeri Klas IB Cibinong (Foto: Devi/Kabar7.com)
 08 Desember 2016 20:06:43 wib
Share :

Kabar7, Bogor - Perkara harta warisan, paman menggugat keponakan sendiri dalam kasus perdata yang disidangkan di Pengadilan Negeri Cibinong, Jawa Barat yang seharusnya pada Rabu (7/12).

Sebagai paman sekaligus penggugat Madah (59) yang seharusnya hadir dalam persidangan di PN Cibinong sesuai jadwal yang ditentukan yakni pada Rabu (7/12), dengan tergugat I, Sumarni (47) dan Martodji (57) sebagai tergugat II.

Dikarenakan penggugat tidak hadir dalam persidangan tersebut, maka sidang ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Penggugat yakni Madah, menggugat harta warisan milik Martodji (almarhum). 

Ariesta Justitia (27) anak tergugat, yang menjadi perwakilan (kuasa insidentil), di Bogor, Kamis (8/12/2016) menyatakan, bahwa adanya perjanjian hitam di atas putih antara Madah dengan Martodji belum tentu juga ada saksi.

Menurut Ariesta, atas itu pamannya melakukan upaya hukum (perjanjian, red.) dengan menggugat di pengadilan dengan gugatan melawan hukum.

Sementara itu, praktisi hukum Johny Latuheru mengatakan, bahwa seharusnya penggugat proaktif dalam menghadiri persidangan pada sidang pertama yang telah ditentukan tersebut dan mentaati hukum acara yang berlaku di Indonesia.

"Jadi, dengan ketidakhadiran penggugat pada waktu sidang pertama merupakan sebuah catatan tersendiri dalam bagaimana kita bertindak sebagai penggugat yang harus proaktif melaporkan diri kepada panitra pengganti untuk bisa segera disidangkan," kata dia kepada Kabar7 di Bogor, Kamis (8/12).

Dia berharap, semoga bisa menjadi catatan bagi Pengadilan Negeri Cibinong, agar melakukan peringatan untuk sidang berikutnya, biar penggugat bertanggung jawab atas gugatannya dengan menghadiri persidangan tepat waktu.

"(Perkara) tanpa melalui mediasi kekeluargaan sebelumnya, jadi saya pikir masih terlalu dini kalau semua langsung ke meja hijau. Apalagi di sini ada hukum perkawinan ada keterkaitan kekerabatan antara paman dan ponakan dalam hal ini, di mana tergugat sendiri berposisi sebagai anak yatim (Ariesta) yang sudah ditinggalkan orang tuanya (Martodji)," ujarnya.

Untuk diketahui, bahwa kasus gugatan perkara perdata tersebut diketuai oleh hakim Ni Luh Sukmarini SH, MH dan hakim anggota Bambang Setiyawan, SH, MH serta Andri Falahandika SH, MH.(devi)