Pengamat Sebut Hoaks Termasuk Bagian Pembunuhan Karakter

Pengamat Sebut Hoaks Termasuk Bagian Pembunuhan Karakter
 Jerry Massie (istimewa)
 11 Januari 2019 16:08:41 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI), Jerry Massie menyebutkan bahwa berita bohong atau hoaks termasuk dalam bagian pembunuhan karakter atau "character assassination".

"Hoaks dalam bahasanya berarti, 'hacus' atau mengelabui dan berita bohong serta tak benar. Ini termasuk salah satu character assassination terhadap seseorang," katanya melalui pesan WhatsApp kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Menurut Jerry, ada empat tempat yang perlu pembinaan sebagai langkah preventif terhadap hoaks. Pertama, rumah, di sini fungsi orang tua membentuk anaknya agar terhindar dari hoaks.

"Kedua, tempat ibadah baik masjid dan gereja. Fungsi para tokoh agama untuk memberikan arahan moral. Ketiga, Lingkungan sangat menentukan lantaran rumah pergaulan dengan orang yang suka hoaks otomatis penyakit ini akan menular," ujarnya.

Keempat, lanjut dia, sekolah dan universitas. Di tempat inilah fungsi guru dan dosen mengajar bahaya hoaks.

Dalam pilpres kali ini, kata dia, hoaks dengan dibuat maupun diciptakan untuk merusak kredibiltas seseorang terutama calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

"Saya lihat ini sengaja dimainkan dengan cara menyerang bahkan mempengaruhi elektoral agar tidak memilih capres itu," kata dia.

Ia pun menggolongkan hoaks, yakni hoaks internal sengaja dilakukan timsesnya dengan cara menebar fake news (berita bohong) dengan tujuan menjatuhkan lawan politik.

Adapula hoaks eksternal, dimana ini pemainnya adalah lawan politik dari si calon tersebut.

Jerry menjelaskan, menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, ini bisa disebut "ridiculous circle" (lingkaran setan).

"Hoaks pertama dilakukan pada tahun 1808, dimana dilakukan oleh para pesulap dengan mengelabui penontonnya. Facebook saja beberapa waktu lalu menutup 30 ribu akan hoaks. Bukan itu saja, setiap tahun ada 8.000 kasus hoaks, serta laporan yang masuk tahun 2017 lalu dan ditangani polisi sekitar 3325 kasus," jelasnya.

Dia menambahkan, kasus hoaks mirip dengan ujaran kebencian (hate speech) yang terjadi di Indonesia, sudah berada pada stadium 4 seperti penyakit kanker.

"Saya prediksi lapor melapor terkait berita hoaks akan terus merajalela dan ini sulit dihentikan. Jokowi terus diserang lewat isu PKI dan Cina. Sedangkan Prabowo isu HAM," pungkasnya.

(Andreas)