Pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017

Pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017
 
 24 Januari 2018 12:09:23 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat telah menetapkan pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro Indepth Reporting (media cetak), Jurnalistik Foto (media cetak), Jurnalistik Karikatur (media cetak), News Features televisi, News Features radio, dan News Features media siber.

Karya-karya tersebut adalah karya perorangan yang dipublikasikan pada 2017, termasuk memberikan Penghargaan Khusus Media Siber Terinovatif kepada media siber sebagai lembaga.

Para pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017 itu akan mendapatkan hadiah sebesar Rp50 juta, tropi, dan piagam, sedangkan Media Siber Terinovatif mendapatkan hadiah sebesar Rp10 juta, tropi, dan piagam.

Hadiah akan diserahkan pada Hari Pers Nasional 2018 yang berlangsung 7-9 Februari 2018 di Padang, Sumatera Barat.

Kategori Indepth Reporting dimenangkan "Dinamika dan Romantika di Sepadan Negeri (1-10)" karya Muhammad Amin yang dipublikasikan di Harian Riau Pos pada 18 Desember 2017.

Karya itu bercerita tentang komunitas adat terpencil yang ada di Riau. Tiga di antaranya -Suku Laut, Suku Akit, dan Suku Asli- berdiam di pesisir dan menjadi suku terasing.

Di tengah suasana yang masih serba minim, menerima serbuan budaya dan nilai-nilai dari udara. Serangan itu tidak mengubah kultur masyarakat. Mereka tetap mempertahankan NKRI.

Karya pemenang ini bersaing ketat dengan 4 nomine lain,  "Uang Haram di Kas Negara" karya Romdani (Kaltim Pos), "Aset Penting (Tanah Abang) yang Dibiarkan Tidak Terurus 1-3" (Irene Sarwindaningrum, Harian Kompas), "Ketika Rokok Merampas Gizi si Miskin" (Dina Konstantia Manafe, Harian Suara Pembaruan), dan "Kami Rindu Kampung Halaman, Pemerintah Tidak Serius, Belajar Mandiri Secara Ekonomi" (Muhamad Taufik, Harian Surya).

Dewan juri (Marah Sakti Siregar, Putut Trihusodo, Dr.Artini) memuji jumlah peserta yang jauh lebih banyak ketimbang tahun-tahun sebelumnya dan didominasi peserta luar Jawa.

Pilihan topik dan kualitas tulisan cukup baik dan memenuhi standar penulisan jurnalistik. Baik komposisi, magnitude, tingkat kesulitan, dan desain grafisnya.

"Sayangnya belum semua karya betul-betul mereprestasikan karya jurnalistik berkedalaman (indepth). Sebagian besar merupakan karya jurnalistik reportase dan feature. Kelemahan utama ada pada riset yang kurang mendalam dan komprehensif. Misalnya, menyorot satu masalah di negeri ini, tapi belum melakukan riset ihwal yang sama dengan yang terjadi di negeri tetangga. Padahal, realitanya kondisinya sudah lebih baik, serta disinyalir hampir semua kondisi, mulai dari alam, sosok manusia, nilai dan kulturnya tidak jauh berbeda dengan kondisi di sini," jelas Ketua Dewan Juri Marah Sakti Siregar.

Pemenang Kategori Foto berjudul "Fase Kritis" karya Raka Denny yang dipublikasikan di Harian Jawa Pos pada 29 November 2017. Foto tersebut menggambarkan Siswa SMP 2 Karangasem bersiap berangkat ke sekolah dengan latar Gunung Agung Bali yang sedang menyemburkan abu.

Para juri, Enny Nuraheni (Ketua Dewan Juri), Tagor Siagian dan Melly Riana Sari sepakat menentukan foto itu karena foto tersebut diambil dalam situasi alam yang menunjukkan kesulitan.

Selain itu secara teknis ada momen bergerak saat anak naik kendaraan hingga menjadikan foto tersebut "hidup".

"Foto ini sarat nilai berita, karena di tengah situasi kritis, anak-anak ini tetap memilih sekolah," tambah Enny Nuraheni.

Selain itu ada 7 nomine lain, "Antre KTP el" (Wisnu Widiantoro-Harian Kompas), "Payungi Raja Arab" (Randi Tri Kurniawan-Harian Rakyat Merdeka), "Kampanye Blusukan" (Galih Pradipta-LKBN Antara), "Dampak Jalan Rusak Parah di Ogan Komering Ilir" (Adrian Fajriansyah-Harian Kompas), "Pilkada 2017" (Galih Pradipta-LKBN Antara), "Upacara Bendera" (Aya Sugianto-Harian Banjarmasin Pos) dan "Tiba di Cipinang" (Arya Manggala Nuswantoro-Harian Media Indonesia).

Pemenang Kategori Jurnalistik Karikatur adalah "Anti Pancasila" karya Budi Setyo Widodo yang dipublikasikan di harian Media Indonesia, 19 Juli 2017.

"Karyanya sangat sederhana, lugas, tidak ruwet. Sangat komunikatif, mudah dipahami semua orang, dan memenuhi syarat sebagai karya karikatur yang baik di antara karya lainnya," jelas Gatot Eko Cahyono, Ketua Dewan Juri Kategori Jurnalistik Karikatur.

Pemenang Kategori Jurnalistik Televisi adalah "Berdamai dengan Maut di Kaseralau" karya Rivo Pahlevi Akbarsyah yang dipublikasikan di Trans 7 pada 10 Oktober 2017.

Menurut Dewan Juri, Yasirwan Uyun (Ketua), Uni Z.Lubis, dan Nurjaman Mochtar, karya tersebut layak mendapat nilai tinggi baik karena sangat menyentuh kepentingan masyarakat luas yang tidak memiliki akses jalan menuju desa di sekitarnya.

Komposisi dan kualitas gambar juga sangat bagus, dapat memperlihatkan secara detail sulitnya medan yang harus dilalui warga desa jika ingin melakukan aktivitas ke desa tetangga.

"Melalui angle pengambilan gambar, dapat terlihat betapa sulitnya warga yang disertai rasa takut ketika akan menuruni dan menaiki tangga setinggi 400 meter tanpa pengamanan sehingga batas antara selamat dan maut yang mengintai sangat tipis," jelas Yasirwan Uyun.

Pemenang Kategori Jurnalistik Radio adalah "Saya Indonesia" karya Surya S.Thalib S.AP yang dipublikasikan di Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Nunukan, Kalimantan Utara pada 16 Desember 2017. Karya ini menggambarkan peliputan ke Pulau Sebatik, salah satu pulau terluar Indonesia, berbatasan langsung dengan Malaysia.

Di sinilah salah satu tempat pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia saat konfrontasi Indonesia-Malaysia. Peliput secara humanis menggambarkan suasana kesulitan perjalanan hingga berhasil menemui warga setempat.

Daerah tersebut, meskipun seharusnya menjadi prioritas pembangunan, sampai saat ini masih sangat memprihatinkan. Toh, masyarakatnya masih tetap menyatakan diri, "saya orang Indonesia".

Errol Jonathans (Ketua Dewan Juri), Awanda Erna, dan Rita Sri Hastuti menilai dari segi tema/sudut pandang, kelengkapan jurnalistik/kode etik, bahasa, dan penyajian.

"Saya Indonesia" bersaing ketat dengan dua karya lain yang sama-sama memiliki kelengkapan jurnalistik yang bernilai tinggi dalam penjurian, yaitu "Menjemput Asa Anak-Anak Sikerei" (Classy Radio, Padang) dan "Memburu Ampas Emas di Grasberg" (KBR).

"Namun 'Saya Indonesia' lebih memiliki kesesuaian dengan nuansa Anugerah Adinegoro tahun ini, 'Merekat Kembali Jati Diri NKRI'," ujar Awanda Erna.

Kategori Jurnalistik Siber Penjurian Kategori Jurnalistik Siber menetapkan "Janji untuk Papua" karya A.Haryo Damardono yang dipublikasikan di Kompas.ID pada 1 Maret 2017.

Karya tersebut tentang penantian masyarakat Papua atas janji pemerintah pusat, terutama berkaitan dengan kampanye Presiden Joko Widodo saat kampanye bahwa Papua adalah bagian Indonesia yang harus diperhatikan.

Janji itu kini mulai dipenuhi Presiden sedikit demi sedikit. Meskipun demikian, dalam keterbatasannya, serta infrastruktur terlambat dibangun, masyarakatnya tetap merasa bagian dari NKRI.

"Janji untuk Papua" bersaing ketat dengan "Menyulam Celah Retas NKRI dari Tanah Bumbu" karya Sri Iswati (Jayakartanews.com, 30 Desember 2017) dan "Berjejal Barang-Barang Malaysia Masuk Indonesia via PLBN Entikong" (Danu Damarjati, Detik.Com, 25 Desember 2017).

Wina Armada Sukardi (Ketua Dewan Juri), Teguh Wicaksono, dan Katherina M. Saukoly memilih "Janji untuk Papua" sebagai pemenang karena topik yang dipilih menyangkut kepentingan orang banyak.

Inspiratif, membangun, serta menggugah pembentukan karakter bangsa dan merekat jati diri NKRI. Mengandung pesan informatif dan berkedalaman dalam penyajiannya. Kelebihan lain, bahasanya jernih, jelas, gaya dan unik.

"Yang juga penting lengkap dalam format siber. Termasuk memenuhi persyaratan berita 5 W+1 H. Terstruktur dalam penyajian. Karena dalam penyajian berita di media cetak dan siber harus ada perbedaan," tambah Wina Armada.

Dewan juri mengingatkan, media siber merupakan kerja tim terpadu dengan banyak unsur. Terminologinya digital. Kreatif, video streaming dan penopang lainnya.

"Lebih banyak tampilan yang berhubungan dengan digital, lebih berkualitas dalam penyajian," ujar Teguh Wicaksono.

Minimal ada tiga media kreatif yang digunakan. Teks, foto, dan video serta tampilan bahasa visual harus kuat dan terlihat.

Bila Anugerah Jurnalistik Adinegoro mengundang peserta mengirimkan karyanya, pada penghargaan khusus ini Dewan Juri -Nukman Lutfie, Manuel Irwanputera, dan Merdi Sofansyah- mengamati secara diam-diam, tanpa mengundang peserta.

Penghargaan Khusus Media Siber Terinovatif ini diberikan kepada Tirto.Id -sebuah situs berita, artikel, infografik yang sedang naik daun.

Ada dua situs berita yang masuk nomine dan disorot tajam Dewan juri dalam kurun waktu tertentu pada 2017, Tirto.Id dan Kumparan.Com.

"Dewan juri akhirnya melihat Tirto.Id mempunyai kekuatan lebih pada konten dan fitur," ujar Merdi Sofansyah, mewakili Dewan Juri.

 

(K7-1)