PAPEDA AMBON MENGGODA SELERA LIDAH PELANGGAN JAKARTA

PAPEDA AMBON MENGGODA SELERA LIDAH PELANGGAN JAKARTA
 Novayanti, Foto: Wem/Kabar7.com
 26 Agustus 2016 03:10:00 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Rasa tawar menyerupai lem berwarna putih, kaya akan serat, rendah kolestrol dan bernutrisi cukup yakni bubur sagu. Coba Anda tebak makanan apa itu? Suku Ambon sebut "Papeda" makanan khas Ambon ini ternyata bukan saja diminati oleh orang Ambon. Namun mampu menggoda selera lidah orang Jakarta khususnya orang Tiongkok.

Sop Ikan Paparisa Khas Ambon nomor 26, salah satu stan food courts yang ada di basement Pasaraya Indonesia/Manggarai, milik Abdul Latief mantan suami artis cantik Desy Ratnasari di Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan.

Lebih dikenal dengan sop ikan Caca Nova, memberikan warna tersendiri karena menyediakan makanan khas Ambon khususnya papeda panas dengan berbagai ikan kuah (sop ikan) yakni ikan kuah kuning, ikan kuah asam, ikan kuah asam padis dan juga soto ikan.

Wanita berhijab ini adalah Novayanti (35). Ia keturunan Ambon-Bugis dan mendapatkan pasangan hidup Rizal Pattisahusiwa (45) dari Desa Sorisori Maluku Tengah. Ia punya feeling bisnis kuliner yang patut diapresiasi karena berani untuk mengangkat makanan khas Maluku di Jakarta.

Boleh dibilang dia punya kalkulasi yang cukup untuk bertahan. Karena banyak pesaing dan jumlah orang Ambon di Jakarta tidaklah begitu banyak bila dibandingkan dengan suku lainnya.

Menurut dia, bukan saja orang Ambon yang sering makan papeda panas ikan asam padis atau kuah kuning. Namun kebanyakan orang Jakarta khususnya orang Tiongkok sering menyambangi warungnya untuk menikmati. Nikmatnya makanan asal Maluku yang cukup menggoda selera lidah tersebut.

Selain papeda panas yang dapat menggoda lidah pelanggan, ia juga menyediakan patatas (ubi manis), kaladi (talas) dan kasbi (singkong).

"Cukup laris tiga jenis makanan ini," tutur Nova.

Menurut Nova, hampir semua menu yang ia sajikan di warungnya mendapat respon positif dari pelanggan setianya.

"Saya sudah punya pelanggan khusus setiap bulan, biasa mereka bikin kegiatan dua kali sebulan dengan jumlah 40 hingga 50 orang. Dan kadang juga dapat order dari kantor pemerintah," papar Nova ketika disambangi Kabar7.com di Jakarta, Kamis (25/8/2016).

Nova menuturkan, bahwa ia menerima saran atau pun kritik terkait cita rasa yang ia tawarkan. Kadang ia menanyakan kepada pelanggannya ketika selesai makan.

"Bagaimana rasanya, enak ga? rata-rata pelanggan mengapresiasi masakan saya. Dengan menyebut bahwa enak mba masakannya, kami ga rugi bayar mahal, meniru ucapan pelangganya," urai dia.

Nova menilai ketika customer balik untuk menyantap makananya yang kedua kali sudah pasti mereka puas dengan apa yang ia tawarkan.

"Saya dan suami sudah menjalani bisnis kuliner ini kurang lebih lima tahun dan berencana punya tempat sendiri," ungkap Nova.(wem)