Pancasila Harus Menjadi Iman Pemersatu di NKRI

Pancasila Harus Menjadi Iman Pemersatu di NKRI
 Penulis buku Keimanan Pancasila, Ramana Pamuka Alam (dok. kb7)
 14 Agustus 2017 12:37:59 wib
Share :

Kabar7, Sumedang - Meski Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah merayakan 72 tahun kemerdekaannya, namun masyarakatnya, terutama para elitnya sebagian masih dijajah pola pikirnya dengan banyak kotoran dan aturan yang meminggirkan nurani demi kepentingan pribadi dan golongan.

"Masyarakat di NKRI ini harus kembali menyatu dan mengimani Pancasila sebagai pemersatu tanpa melihat latar belakang etnis, budaya, tingkat ekonomi dan sosial serta memanfaatkan iman keagamaannya untuk kepentingan sepihak atau golongan," tegas Ramana Pamuka Alam di acara Pengukuhan Keimanan Pancasila di Kantong Semar, Gunung Cakrabuana, Sumedang, Jawa Barat, 8 Agustus lalu.

Menurut Ramana Pamuka Alam, bangsa ini ambruk, tersungkur pada kubangan nafsu kedurjanaan. "Tamak, serakah dan menindas yang lemah karena nuraninya dipadamkan dengan kepentingan-kepentingan. Akibatnya, sesama anak bangsa saling menerkam, mendominasi dan menguasai hingga para penyelenggara pemerintah pun ikut ambil bagian,’" ucap Ramana yang biasa dipanggil Rama Penulis Buku Keimanan Pancasila dan menulis beberapa lagu kebangkitan nurani di antaranya Damai Indonesia.

Unuk itu, Rama mengimbau, bangsa ini harus meneguhkan kembali kedaulatannya melalui nurani yang benar. "Marilah kita sebagai anak bangsa bersama-sama memerdekakan suara hati, karena suara hati selalu berkata jujur dan benar. Mari kita hayati dan lakoni Keimanan Pancasila di nusantara dalam membangun jati diri sebagai Bangsa Indonesia. Karena Pancasila mampu memberi energi dahsyat bagi semua lapisan dalam struktur masyarakat," ajak Rama penuh semangat.

Doa Damai Bagi Indonesia

Sedikitnya 250 peserta dari berbagai provinsi di antaranya, Gorontalo, Klaten, Jawa Barat, Palopo, Sumatera dan Jawa Timur bersama Rama termasuk Kabar7 melakukan perjalanan menyatu dan menikmati alam ke Kantong Semar, Cakrabuana, Sumedang Jawa Barat yang memiliki ketinggian 1721 mdpl dan koordinat 7°2'7"S 108°7'51"E ini guna melakukan doa damai bagi Indonesia.

Perjalanan yang dilakukan sedikitnya enam jam naik ke puncak gunung dan enam jam perjalanan turun gunung yang berada di tapal batas antara 3 kabupaten, Garut (Malangbong), Kabupaten Tasikmalaya (Pagerageung) dan Kabupaten Majalengka ini penuh kasih persaudaraan Pancasilais. Betapa tidak. Ketika satu tidak bisa jalan, teman lainnya memandu bahkan menggendong demi mencapai tujuan bersama. Ketika kaki peserta yang lainnya sakit dan lemah, peserta lainnya ikut peduli dan memijat kaki dengan terampil.

"Luar biasa perjalananan menikmati alam hutan wisata mendaki Gunung Cakrabuana Sumedang ini. Semua tidak ada yang asing satu dengan lainnya. Bak keluarga. Saling memperhatikan. Saling mengasihi dan peduli, agar semua bisa menikmati perjalanan sesulit apapun kondisinya. Namun, semua itu adalah hal menakjubkan dari rasa cinta, persaudaraan yang tercipta karena mengimani Pancasila ini,".

Alangkah indahnya, kata mantan Marinir, peserta dari Jawa Timur kalau hal ini terjadi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara ini. "Pancasila adalah alat pemersatu, tidak bisa ditawar lagi. Kalau orang kecil seperti kami bisa melakoninya dan menjiawainya, mengapa para elit yang pintar-pintar dan punya segalanya itu tidak menerapkan kehidupan yang mengimani Pancasila. Sehingga tidak ada lagi ‘hal-hal’ yang memanfaatkan SARA dalam pilkada dan sebagainya," celutuk peserta dari Sulawesi.

Jelasnya, acara perjalanan sosialisasi Keimanan Pancasila. Doa damai bagi Indonesia, peluncuran lagu-lagu persaudaraan dan damai bagi Indonesia yang diwarnai pengibaran bendera sepanjang 108 meter itu fakta. Dalam kehidupan Bangsa Indonesia yang berusia 72 tahun ini, Pancasila masih menjadi falsafah hidup berbangsa dan bernegara serta nurani yang benar terhadap cinta Tanah Air. Meski wujudnya ‘sayup-sayup’ di Sumedang, Jawa Barat 8 Agustus 2017. Dirgahayu Republik Indonesia.

***(ks-k1)