MENUNGGU GAJI YANG TAK DIBAYARKAN PT. PERKEBUNAN MITRA OGAN BATURAJA

MENUNGGU GAJI YANG TAK DIBAYARKAN PT. PERKEBUNAN MITRA OGAN BATURAJA
 Karyawan PT. Perkebunan Mitra Ogan Baturaja lakukan demonstrasi di Dinas Tenaga Kerja OKU, Rabu (15/3/2017) (dok. kb7)
 20 Maret 2017 09:26:14 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Ratusan Karyawan PT. Perkebunan Mitra Ogan Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), sudah kehabisan kesabaran untuk menunggu janji perusahaan membanyar gaji mereka.

Aksi demonstrasi pun dilancarkan ke Dinas Tenaga Kerja OKU, Rabu (15/3/2017) kemarin. Tuntunya, mendesak pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan antara karyawan dan perusahaan.

Demo ini bukan yang pertama kalinya, melainkan karyawan PT. Perkebunan Mitra Ogan Baturaja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Mitra Ogan sudah pernah menggeruduk kantor dinas tersebut beberapa bulan lalu.

Namun nampaknya mereka tak puas kalau aspirasinya hanya didengarkan atau ditampung. Para karyawan ingin ada solusi yang kongkrit agar persoalan menemui jalan keluar. Karena itu aksi dilancarkan kembali.

Dalam aksinya, mereka menyebutkan Dinas Ketenagaan Kerja OKU seperti tutup telinga karena tak terlihat tindakan nyata atas aspirasi yang mereka sampaikan.

"Karyawan sudah habis batas kesabaran mereka selama ini sudah bersabar," ungkap Dewan Penasehat SPMO, Romzoni saat aksi.

Untuk diketahui, gaji karyawan yang belum dibayar yakni sejak September hingga Febuari. Total ada 1.700 karyawan yang belum mendapatkan haknya.

Dijelaskan Romzoni, sampai saat ini karyawan hanya menerima 65 persen gajinya. Sisanya 35 persen inilah yang tidak ada kejelasan dari perusahaan.

"Janji dari managemen perusahaan akan membayar sisa gaji 35 persen namun sampai saat ini tidak ada," ucapnya.

Ancaman mogok massal lalu diserukan oleh karyawan bila dalam waktu dekat perusahaan tidak membayar gaji mereka.

Romzoni menilai, mogok massal ini juga sebagai bentuk perlawan terhadap perusahaan yang selalu mengintimidasi karyawan jika melakukan aksi unjuk rasa.

PT. Perkebunan Mitra Ogan Baturaja, tambahnya, justru sempat mengancam karyawan bila sampai demo terjadi. Acaman itu antara lain ditutupnya afdeling, memutuskan aliran listrik dan air di rumah karyawan.

"Bus dan Sekolah SD yang ada afdeling akan dihentikan, pelayanan kesehatan akan distop, dan koperasi akan ditutup," ujarnya.

Di samping itu, unjuk rasa juga menuntut PT.Perkebunan Mitra Ogan yang ada di Musi Banyu Asin (Muba) agar diputuskan kerjasamanya. Sebab kemunduran PTP. Mitra Ogan yang ada di Karang Dapo dan Pengaringan menjadi penyebabnya. Dikarenakan managemen perusahaan lebih memperhatikan pabrik yang ada di Musi Banyu Asin.

Menyikapi persoalan tersebut, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten OKU Hakim Makmun mengenaskan kalau pihaknya telah melayangkan surat pada September lalu ke managemen perusahaan.

Isinya, meminta PT. Perkebunan Mitra Ogan Baturaja agar segera membayar gaji karyawan yang telah mereka tunggak selama berbulan-bulan.

Dengan tindakan itu, Hakim Makmum membantah kalau pemerintah tak berbuat apa-apa atas peroalan antara karyawan dan PT. Perkebunan Mitra Ogan Baturaja.

Hakim juga berjanji akan mengambil tindakan lebih lanjut berupa mediasi antara kedua belah pihak agar menemukan solusi yang sama-sama menguntungkan.

"Nanti kita panggil panggil pihak managemen perusahaan untuk mediasi dan perwakilan karyawan kita hadirkan sehingga ada titik temu," jelas Hakim Makmun.

Menurut perwakilan pihak managemen yang hadir di tengah aksi unjuk rasa mengatakan, perusahaan akan mencicil gaji karyawan dan pihak perusahaan minta kepada karyawan agar dapat memahami kondisi perusahaan, dan pihak perusahaan menyanggupi membayar gaji karyawan sebesar Rp.300 juta perbulan untuk seluruh karyawan.

Di tempat terpisah salah satu karyawan mengungkapkan mau kami beri makan apa anak istri jika Rp.300 juta dibagi untuk 1.700 karyawan tutup saja perusahaan ini yang selalu berjanji tapi tidak pernah terealisasi.

(yan)