Menteri Susi: Makan Ikan Cegah Anak Stunting

Menteri Susi: Makan Ikan Cegah Anak Stunting
 (istimewa)
 15 Juli 2018 11:13:36 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengingatkan masyarakat agar meningkatkan konsumsi ikan karena memiliki banyak manfaat seperti mencegah anak mengalami gejala "stunting" atau kekerdilan.

"Makan ikan juga untuk mencegah stunting," kata Menteri Susi dalam acara kampanye Laut Indonesia Sehat di Jakarta, Minggu (15/7/2018).

Menurut Susi Pudjiastuti, dalam ikan juga terkandung zat omega yang penting untuk meningkatkan kecerdasan anak sehingga konsumsi ikan akan membuat manusia menjadi lebih pintar dan sehat.

Sebelumnya, Center for Indonesian Policy Studies mengingatkan bahwa fenomena stunting atau kekerdilan menjadi ancaman terhadap potensi bonus demografi sehingga harus bisa diantisipasi sejak anak berada dalam kandungan.

"Bonus demografi tidak akan berarti apa-apa tanpa generasi muda yang sehat jiwa dan raga. Dengan sehat jiwa dan raga, mereka akan mampu memaksimalkan potensi mereka dalam berbagai hal," kata Kepala Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia diperkirakan akan menyongsong bonus demografi pada 2030, dan dengan melimpahnya jumlah penduduk usia produktif tentu merupakan hal yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian-capaian positif di berbagai bidang.

Hal itu, ujar dia, harus dimulai dengan menciptakan generasi muda yang sehat, baik jiwa maupun raga. Pemenuhan gizi seimbang dapat dilakukan sebagai awal yang baik untuk tumbuh kembang anak.

Ia mengatakan stunting terjadi ketika anak mengalami kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama dan terus menerus.

"Akibatnya adalah anak tidak mengalami pertumbuhan fisik yang maksimal. Tinggi badan anak stunting biasanya lebih pendek dari rata-rata tinggi anak seusianya. Tidak hanya berdampak pada fisik, kecerdasan anak stunting biasanya juga tidak lebih baik daripada anak yang tidak mengalami stunting," katanya.

Selain itu, ujar dia, anak yang menderita malnutrisi juga cenderung lebih mudah sakit dan mengalami masalah kesehatan, seperti kanker, diabetes, dan jantung.

Hizkia menjelaskan anak mengalami pertumbuhan yang pesat pada usia 0-6 tahun.

Pada fase itu, pertumbuhan otaknya mencapai 95 persen, sedangkan pada fase usia berikutnya (6-12 tahun) pertumbuhannya dapat dikatakan stabil. Setelah usianya 6 tahun atau lebih, pertumbuhan otaknya adalah lima persen.

"Stunting bisa berdampak hingga anak dewasa. Hal ini akan membuat anak tidak bisa maksimal dalam mengembangkan potensinya. Anak stunting juga akan memiliki potensi kerugian waktu dan tenaga karena memiliki tubuh yang rentan terkena penyakit. Belum lagi potensi kerugian ekonomi karena harus terus mendapatkan perawatan kesehatan akibat sakit yang diderita karena stunting," katanya.

Untuk itu, ujar dia, gizi seimbang adalah asupan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral, serta pemenuhan gizi pada anak perlu dilakukan sejak dalam kandungan.

Setelah anak dilahirkan, katanya, pemenuhan gizi yang seimbang berguna untuk mengoptimalkan pertumbuhan otak dan fisik anak.

(antara)


Berita Terkait