Mendikbud Berpikir Tiru Pengajaran Pemrograman di SD Jepang

Mendikbud Berpikir Tiru Pengajaran Pemrograman di SD Jepang
 (istimewa)
 27 Agustus 2018 22:57:07 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memuji pengajaran teknologi pemrograman pada murid sekolah dasar (SD) di Jepang dan berpikir untuk menerapkannya dalam pembelajaran tingkat dasar di Indonesia.

Dia mengemukakan pemikirannya setelah menerima kunjungan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang Yoshimasa Hayashi untuk memperbarui kerja sama kedua negara di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, Senin (27/8/2018).

"Saya juga sedang berpikir sudah waktunya belum kita menerapkan itu terutama dalam level primary school (sekolah dasar). Di Jepang Pak Menteri menyampaikan programmer sudah dimulai di elementary school (sekolah dasar). Jadi SD sudah diajari programmer, untuk memprogram, ini luar biasa," kata Muhadjir usai mengadakan pertemuan tertutup dengan Menteri Yoshimasa.

Namun dia menyadari bahwa masih ada tantangan-tantangan untuk menerapkan pembejalaran pemrograman semacam di sekolah dasar Jepang di sekolah-sekolah dasar Indonesia, salah satunya permintaan kalangan tertentu agar anak-anak tidak diperkenalkan dengan gawai pada usia dini.

"Di Indonesia ini masih dilematis ya, malah ada yang meminta jangan anak-anak dikenalkan gadget sejak dini, dibatasi. Kita harus bicara dulu lah untuk bisa membuat terobosan seperti Jepang," ujarnya.

Ia mengatakan generasi muda harus dipersiapkan sejak dini supaya mampu menggunakan dan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

"Mestinya kita harus lebih terbuka untuk menyiapkan generasi muda kita, terutama di dalam menghadapi ekspansi teknologi komunikasi, karena itu tidak mungkin kita mem-protect anak kita, tidak mungkin, yang bagus adalah kita memberikan semacam kekebalan, imun terhadap efek negatif dari teknologi komunikasi," ujarnya.

Dia menuturkan bangsa Indonesia mempunyai pilihan untuk membatasi kontak anak dengan perangkat teknologi informasi seperti gawai guna menghindarkan mereka dari konten-konten yang negatif.

Namun, ia melanjutkan, masyarakat Indonesia juga mempunyai pilihan lain yang lebih baik bagi pengembangan kemampuan anak, yakni mendorong anak-anak mengenal teknologi informasi dengan memberikan perlindungan terhadap efek negatif teknologi, seperti dengan membimbing anak-anak menggunakan teknologi secara bijaksana.

"Ini memang dilema, karena kalau kita terus memberikan proteksi kepada mereka sementara mereka mendapatkan peluang kapan saja, kita tidak mungkin mengawasi anak-anak kita," tuturnya.

Dia menuturkan bahwa Jepang sudah sangat terbuka dengan kecanggihan teknologi komunikasi sehingga bahkan sudah memasukkan pemrograman dalam pelajaran murid sekolah dasar.

Di Jepang, Muhadjir menuturkan, teknologi informatika bukan cuma mata pelajaran, namun menjadi bagian dari metode pembelajaran.

"Karena IT itu adalah alat, bukan ilmu, tapi lebih didekati sebagai alat pembelajaran, terutama untuk yang disebut Menteri (Yoshimasa) tentang student active learning yang sebetulnya sekarang kita promosikan," ujarnya.

Ia menyebut penggabungan metode pembelajaran siswa aktif dengan penerapan teknologi informasi memungkinkan anak-anak melakukan lompatan-lompatan positif ke depan.

(antara)