Karena Sakit, Harusnya Jhony Lukito Ditahan di Luar

Karena Sakit, Harusnya Jhony Lukito Ditahan di Luar
 (Istimewa)
 01 Februari 2019 14:26:19 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Ironis, nasib Jhony Lukito. Bak sudah jatuh ketiban tangga dan harus dipikulnya. Itulah nasib pengusaha yang merenovasi dan merevitalisasi kios usaha pedagang di Kawasan Tambora, Jakarta Barat. Kini, ia berhasil dalam kondisi sakit berbarengan dengan botol oksigen yang disetujui di Rumah Sakit atau di Rumah.

Jhoni Lukito (JL) tdak lari atau mangkir dari proses hukum yang diberlakukan. Dia terus-menerus meminta izin pada pihaknya.

"Jadi, kami harap ada tindak lanjut terhadapnya. Dalam proses hukum yang dituntut, karena dia sakit kiranya Jhoni Lukito ditangani di luar agar bisa menjelaskan penyakitnya di RS atau di rumah," kata Kuasa Hukumnya Gogo Edy HM, SH didampingi Yudika Siahaan, SH dari Advokat & Konsultan Hukum Yusticia, pada Kamis kemarin (31/1/2019) di Kantornya, Jakarta.

Menurut kuasa hukum yang luar biasa, dimulai Jhoni Lukito diajak usaha kongsi dagang, namun ditipu mitra usahanya. Bahkan dijerat, dibilang penipu dan dijebloskan ke penjara. Bukan untung yang didapat, kemalangan diraih. Duit tidak bisa, kiosnya diambil, Jhony Lukito dijebloskan ke penjara.

Meskipun kondisinya sekarat dengan nafas yang tersendah-sendah, setiap saat membeli oksigen, penyakit diabetes berat yang membeli makanan ketat, serta serangan jantung akut.

Rekayasa penangkapan JL diambil oleh bisnis yang dibuat direkayasa penangkapan dan diciduk ke penjara dengan pasal 263 ayat (1) dan (2) KUHP dan atau Pasal 3 dan 4.

"TPPU ditangkapnya pada 28 November 2018 pukul 23.30 WIB oleh empat orang penyidik ​​Kepolisian Polda Metro Jaya dengan tuding masuk dalam DPO karena tidak datang membawa. Padahal, JL sedang terbaring di perumahan di dalam kompleks yang akut, "kata Kuasa Hukum.

Namun, kata Gogo Edy, oknum penyidik ​​yang diaminkan Kanit III Polda Metro Jaya bersikukuh JL diambil dan dipenjara dalam kondisi yang sakit serta kondisinya setiap kali dikirim tabung oksigen.

Dia menjelaskan, Jhoni Lukito ditangkap dengan Surat Penangkapan yang hanya diperlihatkan kepada keluarga dengan tudingan lari dari penyidikan hingga dimasukkan dalam Daftar Pencari Orang (DPO).

Padahal, JL sakit dan kondisi kesehatannya dalam pengawasan dokter ahli Jantung pembuluh darah khusus dr. M Abbas di Rumah Sakit Omni mendiagnosis penyakit Jantung Fase 4 dan Diabetes serta pernafasan ketat.

Sementara itu, menurut Yudika Siahaan, pada 4 April 2018 JL diundang sebagai tersangka untuk hadir menghadap Unit Penyidik ​​V Kasubdit II Polda Metro Jaya.

Namun, kesehatannya tidak baik dia tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut dan pihaknya selaku otoritas hukum yang diperlukan untuk pemeriksaan kesehatan karena JL dengan melampirkan surat dr. M Abbas dari Rumah Sakit Omni.

Pada Mei 2018, lanjut Yudika, pihaknya menyerahkan surat sakit dari dr. Abbas, ke Penyidik ​​Unit V, tetapi penyidik ​​disampaikan dan penyidikan diambil alih Penyidik ​​Unit III.

"Hingga kami saat itu langsung ke ruangan Unit III dan bertemu Penyidik ​​Sofian dengan menjelaskan kondisi kesehatan Jhony Lukito dan juga menerima surat dr. M Abbas setuju. Pada 5 Juni 2018, Jhony Lukito mendapatkan aksesor untuk mendapatkan tanggal 8 Juni jam 14.00 WIB penyidik ​​Sofian dan Kanit III Ibu Evi P, "jelasnya.

Pada 5 Juni juga, Unit Penyidik ​​III mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan terhadap Jhony Lukito.

"Pada 8 Juni-jamnya jam 13.30, kami menghubungi Penyidik ​​Sofian melalui telepon seluler akan menghadap. Namun, di ruang Penyidik ​​Unit III kosong dan kami kembali menghubungi Penyidik ​​Sofian sampai kapan saja menunggu? Penyidik ​​meminta bantuan Bapak Jhony Lukito?, Ada surat yang meminta dibatalkan pemeriksaan, "ungkapnya.

Penyidik ​​Sofian mengatakan, serahkan saja ke Tata Usaha dan ppihaknya enyampaikan surat Perihal Penundaan memeriksa Jhony Lukito karena sakit dilepaskan surat sakit dr. M Abbas dan mendapatkan tanda terima.

Penyidik ​​Sofian dihadiri dan ditunggu hingga malam karena puasa. Hari Minggu, 11 Juni 2018 karena saat ini sedang menunggu lebaran.

"Pada 8 Juni Jam 12.00, kami ditelepon keluarga JL bahwa ada Penyidik ​​dari Unit III datang mencari JL, sementara JL saat itu sedang di Rumah Sakit Omni," katanya.

Di sisi lain, panggilan ke JL hadir jam 14.00, tetapi pihak Penyidik ​​datang jam 12.00 JL hingga tdak bertemu JL. Penyidik ​​pun membuat Surat Daftar Pencarian Orang (DPO) dan mengeluarkan surat JL masuk DPO pada 12 Juni 2018 dengan alasan tidak koperatif.

Sekali lagi, sambung Gogo Edy, kuasa hukum JL. Jhoni Lukito 8 Juni 2018 yang diberikan kepada Diresktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengizinkan tanda terima kasih dari Tata Usaha dan pada 11 Juni 2018.

"Kok dibilang bukan koperatif. Mengundang, kami selaku otoritas sudah menghadap Penyidik ​​Sofian dan Kanit III Ibu Evi Pagari, AMD.SH," ungkapnya.

Namun, pada 28 November 2018, jam 23.30 Penyidik ​​4 orang datang melakukan Penangkapan terhadap Jhony Lukito yang meminta oksigen setiap saat, terang otoritas hukum JL Gogo Edy yang bersama timnya telah meminta bantuan penangguhan perumahan di JL untuk Menko Polhukam Republik Indonesia, Kompolnas Republik Indonesia, Kepala Bidang Propam Polri, Provost, Paminal, Kapus Profesi, Kapolda Metro Jaya dan Komnas HAM Republik Indonesia, LPSK Republik Indonesia dan khusus untuk Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian.

(k7-1)


Berita Terkait