Jurnalis Kristiani Harus Utamakan Kepentingan yang Lebih Besar

Jurnalis Kristiani Harus Utamakan Kepentingan yang Lebih Besar
 Foto atas: Cosmas Batubara. Foto bawah: Glenn Fredly (dok. Kabar7)
 19 Januari 2018 23:27:23 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Tokoh nasionalis, Cosmas Batubara menegaskan, jurnalis Kristiani harus mengutamakan kepentingan yang lebih besar di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Jurnalis Kristiani harus bersikap seperti Tiga Raja (Tiga Majusi) dalam kisah kelahiran Yesus Kristus untuk menjadi wartawan yang sejati dan memiliki hati nurani.

"Jurnalis Kristiani harus mempunyai sikap seperti Tiga Raja dalam kisah kelahiran Yesus yang sangat kritis terhadap kekuasaan yang ada. Memiliki hati nurani, dan mengutamakan kepentingan yang lebih besar untuk menjadi wartawan yang sejati," demikian salah satu pesan Natal mantan Aktivis Angkatan 66, Cosmas Batubara, pada Perayaan Natal dan Ibadah Syukur Tahun Baru 2018 Jurnalis Kristiani, di Conference Room Lt 36 MRCC Siloam, Jakarta, Rabu malam (17/1/2018).

Hadir dalam acara yang mengusung tema "Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah di dalam Hatimu", dan subtema, "Jadilah Jurnalis Kristus dan Wartakanlah Damai Suka Cita Bagi Sesama".

Acara Natal yang ibadahnya dipimpin Pdt. Meiske Cathrine Colanus itu juga dihadiri budayawan Jaya Suprana, tokoh pers Leo Batubara, dan penyanyi Glenn Fredly serta berbagai wartawan lintas organisasi.

Cosmas mengisahkan bagaimana sikap kritis Tiga Majusi itu terhadap kekuasaan saat mencari Yesus ke Betlehem. Ketika itu, Herodes berpesan kepada mereka kalau sudah ketemu Yesus segera kembali memberitahu dia.

"Tapi Tiga Majusi itu tidak kembali. Mereka mengkritisi kepemimpinan Raja Herodes karena mereka tahu Herodes ingin ketemu bukan untuk menyembah Yesus tapi justru mau memusnahkan Dia," tuturnya.

Menurut Cosmas perayaan Natal bagi wartawan Kristiani bukan sekadar merayakan Yesus lahir, pasang pohon Natal dan sebagainya. Yang lebih penting bagaimana bisa mempunyai sikap seperti Tiga Majusi tersebut.

Cosmas jua mengingatkan, tujuan para founding fathers mendirikan Negara Indonesia adalah untuk masyarakat keseluruhan.

"Karena itu seluruh kesepakatan yang telah dicapai para pendiri bangsa harus jadi pegangan utama kita. Pertama, semua tindakan berbangsa dan bernegara yang kita lakukan harus bermuara pada penghormatan dan penghayatan kita kepada Tuhan. Kedua, apapun yang kita lakukan juga bermuara kepada kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, kita harus menjunjung tinggi permusyawaratan dan demokrasi, baru keempat kita bercita-cita untuk menjaga persatuan Indonesia. Terakhir, kita harus selalu menekankan keadilan sosial," papar Cosmas Batubara.

Karena itu, lanjut Cosmas Batubara yang juga Presiden Agung Podomoro Land (APL) ini, tulisan-tulisan wartawan Kristiani harus menuju pada kepentingan negera yang berdaulat pada prinsip kehidupan pemahaman kelima sila yang ada di Pancasila dasar negara.

Komunikasi Politik Cosmas mengritisi peran penting partai politik sebagai salah satu lembaga demokrasi dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut di atas.

Menurut dia, partai politik yang ideal adalah partai politik yang bisa melakukan berbagai fungsi antara lain komunikasi politik.

"Parpol harus bisa mendidik bangsa ini untuk dewasa menggunakan hak-haknya, bukan memobilisr mereka dengan cara yang tidak mendidik," katanya.

Kedua, kata Cosmas, parpol juga seharusnya melakukan pendidikan politik. Mereka harus melakukan rekrutmen dalam rangka seleksi kepemimpinan bangsa.

"Nah ini yang saya lihat saat ini, beberapa partai politik kurang mampu melakukan seleksi kepemimpinan dalam dirinya, sehingga dalam memilih siapa yang ditampilkan kurang menarik bagi kita," ucapnya.

Cosmas yang pernah menjabat menteri tiga kali itu juga menyinggung soal ekonomi global. Beberapa analis ekonomi mengatakan, pada 2018 ini ekonomi dunia berkembang 3,6% dan ekonomi Indonesia diperkirakan antara 5,1% -5,5%.

"Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagaimana hal itu bisa diwujudkan, bagaimana partisipasi masyarakat dilibatkan," katanya.

Disebutkan Cosmas, hampir 65% bangsa Indonesia berpendidikan tingkat SD. Kelompok ini berada di derah pedesaan dan perkotaan yang mudah dimobilisir berbagai kalangan.

"Karena itu tugas Anda sebagai wartawan, mari kita bersama-sama mendidik agar yang 65% ini juga mempunyai kesadaran akan hak dan kewajibannya dan mereka bisa memilih. Saya melihat dalam berbagai gerakan politik akhir-akhir ini massa yang 65% ini menjadi objek mereka, diajak ke sana ke mari didorong ke sana-ke sini. Oleh karena itu pendidikan yang 65% ini harus menjadi fokus kita," katanya.

Cosmas menyarankan hal yang harus diberikan kepada meraka. Pertama, memperbaiki kemampuan vokasi atau keterampilan mereka.

Kedua, memberikan inspirasi, semangat enterpreneurshipnya sehingga mereka bisa berkembang menjadi bagian bangsa Indonesia.

"Kemajuan teknologi sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Kalau yang 65% ini tidak bisa kita ubah, kita akan terus menghadapi gejolak-gejolak. Seperti kita ketahui bersama belum lama ini soal intoleransi, menurut saya ya kelompok ini yang sangat mudah diajak dalam proyek-proyek seperti itu. Kalau mereka sedikit well educated mereka tidak akan menjadi sasaran kelompok yang tidak bertanggung jawab," pungkas Cosmas Batubara.

Ketua Panitia Natal Jurnalis Kristiani dan Tahun Baru 2018, Dar Edi Yoga mengungkapkan, "Natal adalah momentum sukacita dan perlu dirayakan setiap harinya, hingga kita bisa membagikan sukacita itu kepada setiap orang".

Sementara bagi Jaya Suprana, Natal merupakan salah satu momentum mewartakan kasih pada sesama manusia.

Hal senada pun disampaikan wartawan senior, Leo Batubara. Baginya, di manapun wartawan berada harus meneladani "jurnalis masa lalu" Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

"Mereka (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) adalah orang sederhana yang menulis kisah Yesus sesuai kenyataan dan kejujuran," sambung dia.

Sebelumnya dalam Ibadah, Pdt. Meiske Cathrine Colanus mengingatkan, jurnalis Kristiani harus berani mewartakan kebenaran dan keadilan.

"Jangan takut menjadi jurnalis Kristus karena kita milik Kristus memberitakan kebenaran dan lakukan pekerjaan dengan motivasi iman. Bukan dengan motivasi politik, uang dan prestise," ucap Pdt. Meiske Cathrine Colanus di acara yang diwarnai dengan kesaksian Glenn Fredly.

Glenn Fredly dalam kesaksiannya melantunkan lagu ciptaannya berjudul Terang dan tembang milik Franky Sahilatua, Pancasila Rumah Kita.

"Musik harus jadi alat pemersatu. Musik juga dapat mempertahankan Indonesia untuk sampaikan pesan perdamaian," kata Glenn Fredly.

 

(K7-1)