INDONESIA MILIKI KEMAMPUAN ATASI KRISIS

INDONESIA MILIKI KEMAMPUAN ATASI KRISIS
 Mantan Menteri Keuangan Dr Muhamad Chatib Basri (istimewa)
 07 November 2016 21:00:22 wib
Share :

Kabar7, Depok - Mantan Menteri Keuangan Dr Muhamad Chatib Basri menyatakan, bahwa Indonesia memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengatasi krisis yang disebabkan oleh faktor eksternal.

"Ini merujuk pada pengalaman Indonesia dalam mengatasi krisis," demikian diungkapkannya dalam acara Konferensi bertajuk The 1st Asia-Pasific Research in Social Sciences and Humanities Universitas Indonesia Conference (APRiSH), di Universitas Indonesia, Depok, Senin (7/11/2016).

Ia mengatakan, dibandingkan dengan negara-negara yang digolongkan sebagai 'Fragile Five', Indonesia dan India adalah dua negara yang relatif lebih cepat pulih.

Fragile Five adalah istilah yang saat itu digunakan untuk merujuk pada lima negara yang paling bergantung investasi asing sehingga rentan ambruk akibat gejolak ekonomi global. Kelima negara yang dimaksud adalah India, Indonesia, Brazil, Afrika Selatan dan Turki.

Dalam konferensi yang mengundang para ahli terkemuka dari berbagai negara ini diselenggarakan di Depok, 7-9 November 2016. Tahun 2008-2014 merupakan periode yang sangat penting dan menarik bagi kebijakan makro ekonomi di negara maju maupun berkembang.

Hal ini menyusul dikeluarkannya kebijakan yang disebut Quantitative Easing (QE) oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Kebijakan tersebut mengakibatkan terjadinya aliran dana masuk ke negara berkembang.

Pengaruh lainnya adalah memicu pertumbuhan ekonomi dan booming di sektor finansial, serta membaiknya nilai tukar di negara berkembang.

Tapi seiring dengan membaiknya perekonomian AS, pada Mei 2013 The Fed mulai membicarakan kemungkinan mengakhiri kebijakan QE.

Kebijakan tersebut adalah mengurangi menyalurkan kredit untuk pembelian obligasi dan surat berharga serta rencana menaikkan suku bunga The Fed.

Walhasil terjadi perpindahan dana besar-besaran dari negara berkembang ke negara maju, khususnya AS. Negara-negara Fragile Five terkena imbas.

Nilai tukar melemah secara dramatis, dan pasar saham serta obligasi sangat terpukul. Hal ini dikenal kemudian sebagai Taper Tantrum (TT).

Untuk menghadapi tekanan di pasar finansial, banyak negara ini mengeluarkan rangkaian kebijakan ekonomi makro. Menariknya, Indonesia dan India mampu mengatasi masalah ini dalam waktu yang singkat.

Indonesia dan India berhasil menciptakan stabilisasi makro ekonomi yang dibuktikan dengan menurunnya defisit dan stabilisasi pasar finansial mereka.

Lebih jauh dijelaskannya, bahwa pada saat itu Indonesia mengeluarkan kebijakan di bidang moneter, fiskal dan makroprudensial. Pada kebijakan moneter, pemerintah menetapkan beberapa kebijakan, salah satunya intervensi mata uang.

Di bidang fiskal, menekan subsidi energi untuk menurunkan tekanan eksternal dan fiskal. Hasilnya Indonesia berhasil mencegah memburuknya defisit. Defisit anggaran bisa dipertahankan di kisaran tiga persen.

Sejumlah pembicara Basri adalah salah satu ahli dari UI yang menjadi pembicara dalam konferensi APRiSH. UI juga menampilkan oleh beberapa ahli lain yang juga sudah terkenal di bidang ilmunya.

Para pembicara tersebut di antaranya Dr Ali Akbar yang merupakan Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia, pakar hukum Prof Harkristuti Harkrisnowo dan Guru Besar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Prof Bambang Shergi Laksmono.

Untuk keynote speaker, akan hadir psikolog ternama Prof Philip Zimbardo dari Stanford University. Ia merupakan presiden The American Psychological Association.

Penelitian terbarunya mengenai psikologi heroisme mempertanyakan, apa yang mendorong sekelompok orang menjadi pelaku kejahatan, sementara yang lainnya berperilaku heroik atas nama mereka yang membutuhkan.

Menurut Direktur Konferensi APRiSH, Dr Tjut Rifameutia Umar Ali, MA, konferensi kali ini mengambil tema "Competition and Cooperation in the Globalized World". Topik ini sangat relevan dengan tantangan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia.

Ia menambahkan, bahwa APRiSH merupakan platform yang menyatukan akademisi dari Indonesia dan wilayah lain di kawasan Asia Pasifik untuk berbagi perspektif masing-masing sesuai dengan keahlian di bidang ilmu sosial dan humanitas masing-masing.

Selama tiga hari, konferensi akan menampilkan 524 makalah.(devi/ant)