Indonesia Kekurangan Insinyur Profesional

Indonesia Kekurangan Insinyur Profesional
 (istimewa)
 04 Juli 2018 16:22:06 wib
Share :

Kabar7, Bandung - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, menyatakan, Indonesia kekurangan insinyur profesional sehingga pengembangan teknologi tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain.

"Kebutuhan sarjana teknik berkualitas sangat dibutuhkan apalagi ada liberalisasi sektor jasa. Salah satu profesi yang terbuka di Komunitas Ekonomi ASEAN," ujar dia, di Kampus ITB, Kota Bandung, Rabu (4/7/2018).

Ia mengatakan, banyak lulusan teknik atau insinyur yang kemudian tidak menekuni bidangnya dan memilih bekerja di sektor lain.

Dalam catatannya, terdapat sekitar 750.000 lulusan teknik di seluruh Indonesia dan hanya 9.000 orang yang fokus dalam profesi insinyurnya.

"Maksud bekerja dalam profesi insinyur maksudnya, karena insinyur bukan sekadar gelar akademik tapi sarjana, tapi ada profesinya," kata dia.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat lulusan teknik tidak fokus terhadap profesinya, yakni seseorang yang kuliah di jurusan teknik hanya mengejar titel.

"Mereka mungkin dapat gelar dari ITB, jadi setelah lulus dia ingin bekerja apa saja," kata dia.

Selain itu, katanya, iklim perguruan tinggi yang dinilai kurang dalam mewadahi atau menciptakan minat mahasiswanya untuk terus berkarir sebagai insinyur.

"Atau mungkin dari pemerintah juga kita kurang memperhatikan penghargaan yang cukup untuk profesi insinyur, baik dalam lapangan kerjanya maupun skema remunerasi. Jadi ini hal-hal yang harus diperbaiki kalau kita ingin punya insinyur lebih banyak," kata dia.

Untuk itu, ia mendorong agar perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia, khususnya yang fokus terhadap teknik, terus melahirkan lulusan yang unggul dan berkualitas.

Ia optimistis dengan banyaknya insinyur yang tetap bekerja sesuai bidangnya akan membuat Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

"Tidak lagi semata mata China atau India, sudah saatnya Indonesia menjadi negara ketiga yang terdepan dalam teknologi informatika," kata dia.

Semua negara maju di dunia memiliki industri berbasis manufaktur yang didukung subsektor jasa.

Untuk bisa sukses mengelola dan memajukan industri berbasis manufaktur, riset dan pengembangan memegang porsi menentukan, dan pengawaknya adalah para insinyur.

(antara)


Berita Terkait