Gus Sholeh: Mari Bangun Ngaji Kebangsaan Kuatkan Ideologi

Gus Sholeh: Mari Bangun Ngaji Kebangsaan Kuatkan Ideologi
 (Dok. Kabar7)
 12 Mei 2018 00:48:14 wib
Share :

Kabar7, Bogor - Seorang ulama asal Jawa Timur, Gus Sholeh Mz mengajak masyarakat luas untuk membangun kebersamaan melalui Ngaji Kebangsaan agar menanamkan kembali nilai ideologi bangsa dan dasar negara Indonesia yakni Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

"Alhamdulillah, dengan acara ini kita bisa merangkul komponen yang lebih banyak dengan dimotori oleh PGN (Patriot Garda NKRI), teman-teman FKPPI, Pemuda Pancasila, JPKP. Mari bersama-sama kita bangun Ngaji Kebangsaan ini untuk menguatkan ideologi kebangsaan kita yaitu Pancasila dan undang-undang," kata Gus Sholeh Mz seusai acara Ngaji Kebangsaan dengan tema "Komitmen Keberagaman dalam Berbangsa dan Bernegara", di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/5/2018).

Gus Sholeh menyampaikan, dengan adanya insiden di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok pada Selasa malam (8/5) dan Kamis (10/5) dirinya mendoakan agar pejuang bangsa yang gugur tenang dan keluarga yang ditinggalkan tabah serta bangga karena gugur dalam bertugas.

"Turut berduka cita, mari kita doakan pejuang syuhada yang gugur dalam menjalankan tugas bangsa dan negara, Al-Fatiha. Semoga tidak ada lagi peristiwa seperti ini," ujarnya.

Menurut dia, dalam situasi saat ini sosialisasi kebangsaan jangan hanya Nahdlatul Ulama (NU) atau barisan sendiri. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Terkait Aksi Bela Palestina atau Aksi 115, dia mengatakan, memang nawaitunya untuk umat Islam, tapi jangan sampai "ditunggangi" agenda politik. Pasalnya, mencederai niat itu sendiri.

"Nangsing tulus (itu benar) lah. Pemerintah juga menolak politisasi rumah ibadah, jangan sampai terulang kembali agama dijadikan tunggangan politik praktis. Tolak politisasi rumah ibadah, agar keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adem ayem suasananya," ucapnya.

Di tempat yang sama, Permadi Arya mengatakan Indonesia memang sudah terpolarisasi jadi dua kubu, Islam yang moderat yang "ramah" sama Islam yang keras atau "marah".

Namun, perlu diingat di tengah-tengahnya itu ada poros tengah. Poros tengah yaitu Islam abangan yang masih bingung.

"Selama ini memang beberapa tahun terakhir, kita dari NU (Nahdlatul Ulama) sadar bahwa kita kalah langkah sama mereka. Mereka udah mulai 3-4 mungkin 5-10 tahun yang lalu, karena mereka agresif," katanya.

Menurut Abu Janda--sapaan akrabnya, Islam yang keras mempunyai doktrin semacam blusukan masuk ke perkampungan merebut masjid, pengajian. Berbeda dengan induk NU basisnya pondok pesantren, karena itu banyak poros tengah yang terpengaruh kubu "garis keras".

(andreas)