Gus Nuril: Jokowi Harus Tegas dan Keras

Gus Nuril: Jokowi Harus Tegas dan Keras
 (Dok. Kabar7)
 11 Mei 2018 21:50:03 wib
Share :

Kabar7, Bogor - Salah satu tokoh Nahdlatul Ulama KH Nuril Arifin Husein mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus keras dan tegas, jangan sampai membiarkan rakyat bergerak sendiri. Karena kondisi sudah melahirkan kebencian-kebencian.

"Kasus di Kelapa Dua (Mako Brimob, Depok, Jawa Barat) adalah suatu bentuk warning yang sangat jelas, bangsa ini tidak boleh main-main manghadapi kelompok radikal. Keputusan Mahkamah Agung atau keputusan pengadilan (PTUN) tentang pembubaran Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) harus diikuti dengan pendataan para anggota dan simpatisannya," kata Gus Nuril --sapaan akrab, di sela acara Ngaji Kebangsaan Kabupaten Bogor, Jumat (11/5/2018).

Dalam acara Ngaji Kebangsaan Kabupaten Bogor mengangkat tema "Komitmen Keberagaman dalam Berbangsa dan Bernegara", sebagai pembicara utama Gus Nuril dan Gus Sholeh dan dimoderatori Permadi Arya.

Gus Nuril menegaskan, terkait pembubaran HTI harus ada peringatan kepada partai politik yang akan "mengadopsi" karena pembubaran (HTI) yang jelas anti Pancasila.

"Maka, kalau ada partai-partai yang akan mengadopsi mereka itu, indikasinya jelas mereka orang-orang yang tidak mencintai negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945," tegasnya.

Menurut dia, Polri jangan segan untuk meminta bantuan kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menghadapi masalah yang berkaitan dengan kebangsaan.

"Karena masalah ini sudah jelas mengancam kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bukan hanya soal keamanan tetapi sudah soal keutuhan bangsa dan negara," ujarnya.

Dia mengatakan, bahwa ulama-ulama NU sudah lama menahan diri, menahan kesabaran. Jangan sampai Patriot Garda NKRI (PGN), Banser, Ansor dengan elemen Pemuda Pancasila, FKPPI atau Pagar Nusantara bergerak sendiri.

Dia mengungkapkan, bahwa Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian melakukan tindakan yang benar, bagus. Kapolri sadar wilayah penyanderaan Selasa malam (8/5), yang sangat ditunggu kelompok menggantikan presiden.

"Tanggal dan waktunya tepat, kemudian itu kalau sampai berdarah-darah di Mako Brimob maka pandangan dunia akan sangat buruk. Pa Kapolri, mas Tito dengan tegas, cermat, arip, bijaksana dan sabar. Tapi, Polri tidak boleh berhenti sampai di sini saja, urusan pencitraan sudah selesai. Urusan penjagaan kewibawaan nama baik, harkat martabat Polisi sudah selesai," ungkapnya.

(deva)