Gereja Berdoa, Indonesia Sejahtera

Gereja Berdoa, Indonesia Sejahtera
 (Dok. Kabar7)
 17 Agustus 2018 20:17:32 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Gereja berdoa, Indonesia sejahtera. Gereja berdoa, bukan mengkristenkan warga Indonesia yang belum percaya.

Gereja berdoa, mendukung pemerintah dan semua komponen bangsa yang berkarya dan berprestasi.

Karena gereja adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI adalah milik bersama.

Gereja bukan warga kelas dua, tapi bagian yang ikut mendirikan bangsa ini dalam doa dan konsep nasionalisme yang digaungkan para pendiri Republik ini.

"Mengingat rayakan HUT Kemerdekaan RI ke 73 hari ini, harus dilihat ke mana NKRI ini akan dibawa para pemimpin terpilih nantinya. Ke depan Indonesia, bangsa ini akan diisi kemerdekaan yang bagaimana. Nasionalis murni kah atau nasionalis yang lain. Saya tidak setuju dikatakan nasionalis religius, karena nasionalisme itu sudah termaktub spirit religius yang ditekan pembukaan UUD 1945 paragraf ketiga. 'Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya'," tegas Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Petra DKI Jakarta, Pdt. Adriano Wangkay usai memperingati HUT Kemerdekaan RI dengan upacara dan Ibadah Syukur di GPIB Petra yang dilaksanakan di Gereja Bethesda, Jumat (17/8/2018).

Nasionalisme menurut Ensiklopedia Indonesia tahun 1983, kata Pdt. Adriano Wangkay yang juga Panitia Materi Majelis Sinode GPIB ini, adalah sikap politik dan sosial dari kelompok masyarakat yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan.

Dalam kehidupan sehari-hari, nasionalisme dimaknai sebagai rasa cinta Tanah Air atau semangat kebangsaan yang di dalamnya termaktub "religius", spirit religius atau ketuhanan yang ditegaskan pada Pembukaan UUD 1945 itu.

Mengutip Anthony D. Smith (2003, hal 41), Pdt. Adriono Wangkay menjelaskan, nasionalisme itu lebih dari sekedar ideologi, namun sudah merupakan budaya dan agama. Meskipun tujuannya sekuler, nasionalisme lebih merupakan "agama politik" ketimbang "ideologi politik".

Menurut Smith (2003, hal 43), nasionalisme sama dengan agama yang menurut definisi Durkheimian adalah "suatu sistem keyakinan dan praktik yang menyatu serta relatif terhadap hal-hal yang suci, yakni hal-hal yang terpisah dan terlarang -keyakinan dan praktik yang menyatu dalam satu komunitas moral yang disebut gereja, yakni semua orang yang mematuhinya".

Nasionalisme mempunyai semacam harta suci (sacred properties) bangsa yang merupakan harta dasar bangsa yang dianggap sebagai suatu komuni suci (Smith, 2003, hal 178).

Jadi, katanya, tidak perlu ada tambahan kata religius lagi. Karena Nasionalisme itu sudah paten diterjemahkan bagi NKRI jangan dirumuskan yang lain hingga mengkerdilkan yang lain.

"Jangan ada kata mayoritas dan minoritas juga di NKRI ini, mau jumlah banyak atau yang hanya sedikit, semua punya hak yang sama sebagai warga NKRI. Indonesia punya kita bersama, jangan dipecah belah kan. 'Nasionalis religius' itu tidak tepat disebutkan di NKRI ini, karena NKRI ini punya semua warga negara Indonesia (WNI) yang berdaulat. Kemerdekaan itu hak segala bangsa oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia ini, dalam bentuk atau konsep apapun harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," papar Pdt. Adriano Wangkay yang berindak selaku Inspektur Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI di GPIB Petra Jakarta Utara.

Jangan Terjebak

Pdt. Adriono Wangkay mengingatkan, kekristenan mesti waspada agar tidak terjebak pada bentuk-bentuk pemujaan apa pun selain pemujaan kepada Tuhan.

Nasionalisme orang Kristen jangan terjebak pada pemujaan kepada bangsa sebagai sebuah "agama politik" sebagiamana dikatakan Anthony D. Smith (2003). Sebab, prinsipnya, jangan ada Allah lain selain Tuhan yang kita sembah.

Nasionalisme Kristen harus dibangun dalam rangka menjalani panggilan untuk membangun dunia seperti ditugaskan Tuhan pada kita.

Menjalani panggilan mengasihi dan melayani jiwa-jiwa yang ada di bangsa ini Menjalani panggilan untuk melayani masyarakat (komunitas) di mana Tuhan menempatkan kita.

Namun nasionalisme Kristen pada bangsa/negeri di tempat mana ia tinggal tidak boleh menjadi sebuah chauvinisme (nasionalisme ekstrem) yang menyebabkan kita tidak peduli dengan bangsa-bangsa lain, atau warga lain di NKRI ini.

Sebab, kewargaan orang percaya bukan hanya di dunia ini saja, tetapi yang utama di sorga.

"Fokus kasih Kristen adalah pada jiwa-jiwa (manusia), semua manusia di seluruh dunia. Makanya Tuhan menegur Yunus yang chauvinistik dan anti bangsa lain (tidak suka Niniwe diselamatkan) –Tuhan cinta semua bangsa," kisah Pdt. Adriono Wangkay dalam suatu kesempatan.

Pdt. Adriono Wangkay mengingatkan jemaatnya untuk berdoa agar Indonesia sejahtera dan para pemimpin negeri ini dari yang tertinggi diberikan hikmat dan kemampuan memimpin dengan baik dan benar.

"Kalau kita semua kompak, sehati dan merendahkan hati berdoa di dalam nama Tuhan Yesus, Indonesia pasti sejahtera. Kita berdoa bukan untuk kristenkan bangsa, tapi demi kesehjateraan, keadilan dan persatuan bangsa yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan," kata Pdt. Adriono Wangkay yang memuji kinerja Forum Kebersamaan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Utara.

FKUB Jakarta Utara, kata Pdt. Adriono Wangkay, adalah contoh organisasi keagamaan yang sangat baik di wilayah Provinsi DKI Jakarta ini.

Forum ini responsif dan mendukung sekali urusan-urusan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan di wilayah Jakarta Utara.

"Luar biasa FKUB Jakarta Utara ini, dan kabarnya menjadi pola dan tipe yang sangat baik bagi Provinsi DKI Jakarta. Ini harus kita dukung kegiatannya atas bantuan mereka dalam urusan perijinan dan kegiatan-kegiatan pembangunan rumah-rumah ibadah kita. Trimakasih FKUB Jakarta Utara," ucap KMJ GPIB Petra ini.

Berikan Ijin Warga Sekitar

Sedkitnya 300 Anggota Jemaat GPIB Petra yang bergereja di gereja cabangnya Bethesda di Jalan Pepaya, Kramat Jaya, Semper Barat itu mengambil bagian dalam Ibadah Syukur Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 73 pada Jumat (17/8).

Jemaat terdiri dari keenam Pelayanan Katagorial (Pelkat) Pelayan Anak (PA), Pelayanan Teruna (PT), Gerakan Pemuda (GP), Pelkat PKP (Persekutuan Kaum Perempuan), Pelkat PKLU (Pelayanan Katagorial Lanjut Usia), Pelkat PKB (Pelayanan Katagorial Kaum Bapak) dan Komisi Pramuka.

GPIB Petra yang sedang dalam pembangunan Gedung Gereja di Jalan Jampea No. 44, Jakarta Utara ini juga mengadakan lomba-lomba sebagai bentuk sukacita bersama dengan jemaat dan keluarganya.

Sementara itu di teras halaman gereja Bethesda, GPIB Petra ini juga memberikan ijin untuk warga sekitar mengadakan lomba-lomba dengan sesamanya.

Sebelumnya, GPIB Petra berbagi kasih dengan memberikan keluasan warga Muslim sekitar mengadakan berbagai lomba di halaman gereja.

"Sebagai bentuk solidaritas sesama anak bangsa, kami memberikan ijin penggunaan halaman gereja kami digunakan untuk acara mereka. Kami juga berharap, kegiatan kami berkenan diijinkan menggunakan halaman rumah ibadah mereka sebagai bentuk kebersamaan anak bangsa yang hidup di NKRI ini, semoga saja," harap Pdt. Adriano Wangkay yang bersama jemaatnya juga kerap berbagi kasih pada waktu bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri serta hari-hari besar keagamaan lainnya.

(K7-1)


Berita Terkait