Diblokir 100, Besok Ada Lagi 1000 Situs Porno

Diblokir 100, Besok Ada Lagi 1000 Situs Porno
 Menteri Kominfo Rudiantara (dok. kb7)
 17 Oktober 2017 14:22:42 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) sedang fokus memblokir situs porno yang tersebar luas di internet. Namun untuk menutup situs tersebut bukanlah perkara mudah, terlebih pornografi di bebera negara merupakan sebuah industri.

"Yang paling banyak diblokir itu situs porno. Ada undang-undang di negara kita melarang konten pornografi. Tapi di sini dilarang, di belahan dunia lain itu jadi sebuah industri. Jadi seperti ini diblokir 100 (konten), besok ada 1000," ujar Menteri Kominfo Rudiantara dalam seminar yang dilaksanakan di PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (17/10/2017).

Ia menyebutkan, Indonesia adalah negara yang terbuka dengan perkembangan teknologi dan komunikasi seperti munculnya situs atau berbagai media sosial. Tapi keterbukaan ini juga menjadi pintu masuk situs porno ke Indonesia.

Untuk itu, Rudi selalu melakukan komunikasi terhadap pembisnis media sosial agar dapat bekerja sama untuk tidak membuka ruang terhadap peredaran pornografi di Indonesia melalui media sosial.

"Kita, Indonesia, welcome terhadap platform-platform seperti Facebook, Youtube, dan lain-lain. Saya katakan kepada para pemilik (media sosial)-nya, 'Anda boleh bisnis di Indonesia tapi jaga pasar Indonesia. Karena kita ingin ada stabilitas seperti politik dan lain-lain. Kalau semua konten dibebaskan oleh mereka, ini anda mau bisnis apa mau hancurin Indonesia?," tegas Rudi.

Jika memang niat sesuatu perusahaan media sosial memang untuk menghancurkan Indonesia, maka Rudi mempersilahkan aparat penegak hukum menindaknya.

"Kalau mau ngehancurin, ada Polri dan TNI, yang berada bersama saya," sambung dia.

Seperti diketahui, polisi menangkap Aris Wahyudi, yang membuat website soal pernikahan nikahsirri.com di kediamannya, Perumahan Angkasa Puri, Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, pada Minggu dini hari, 24 September 2017. Situs tersebut diduga melakukan penyebaran konten berbau pornografi.

(**)