CBA: Tiap Tahun Setda Borong Meubelair

CBA: Tiap Tahun Setda Borong Meubelair
 (istimewa)
 20 Mei 2018 16:32:14 wib
Share :

Kabar7, Bekasi - Direktur Center for Budget Analysis Uchok Sky Khadafi menyatakan adakah ini sebuah hobi atau memang kebutuhan setda (sekretariat daerah) yang setiap tahun harus selalu "memborong" meubelair. Padahal, "memborong" meubelair setiap tahun hanya sebuah pemborosan anggaran pajak rakyat.

"Coba lihat pada tahun 2017 saja, Setda Kota Bekasi melakukan pengadaan meubelair sebesar Rp987.203.000 untuk 293 unit. Dan juga pengadaan meubelair untuk kepala daerah sebesar Rp200 juta untuk 86 unit. Tak puas dengan memborong meubelair sebanyak 379 unit muebelair dengan anggaran sebesar Rp1.187.203.000 pada tahun 2017," jelasnya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (20/5/2018).

Menurut data yang ada, kata dia, Setda Kota Bekasi juga pada tahun 2018, memborong meubelair paket I sebesar Rp711.100.000 untuk 187 unit.

"Dari data tersebut, kami dari CBA meminta aparat hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyelidik pengadaan atau 'borongan' meubelair Setda Kota Bekasi tersebut," ujarnya.

Dia menjelaskan, selain memborong meubelair anggaran daerah atau APBD Kota Bekasi pada tahun 2017, sekretariat daerah juga mengalokasi anggaran untuk pemeliharaan meubelair sebesar Rp166.030.000 dan pada tahun 2016 sebesar Rp165.300.000.

"Kalau ada anggaran pemeliharaan untuk meubelair setiap tahun, seharusnya meubelair milik setda tidak ada yg rusak dan tak usah lagi membeli meubelair yang baru. Daripada itu, Setda dalam memborong meubelair ini, diminta kepada KPK untuk menelusuri harga per unit meubelair tersebut," kata Ucok.

Menurut dia, harga meubelair tersebut memang berbeda-beda. Ada harga meubelair per unit sebesar Rp3,3 juta. Ada juga sebesar Rp2,3 juta per unit dan harga yang paling tinggi per unit sekitar Rp3,8 juta.

"Maka, dari harga yang beda-beda ini, sudah saatnya KPK melakukan pemanggilan kepada sekretaris daerah Kota bekasi untuk diminta keterangan atas harga meubelair yang berbeda-beda tersebut. Kenapa harus ada perbedaan yang mencolok?" ucapnya.

(deva)