CBA Minta Kejari Selidiki Dugaan Penyeleweng Gedung Bantarjati

CBA Minta Kejari Selidiki Dugaan Penyeleweng Gedung Bantarjati
 Kantor Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat. Sabtu (21/4). (Dok. Kabar7)
 21 April 2018 16:19:35 wib
Share :

Kabar7, Bogor - Center for Budget Analysis meminta Kejaksaan Negeri Kota Bogor untuk membuka penyelidikan terkait dugaan "penyelewengan" dana anggaran pembangunan Kantor Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Jawa Barat. Pihak-pihak yang bertanggung jawab seperti Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Bogor, serta Camat Bogor Utara harus dimintai keterangan.

"Selain minimnya serapan dalam pos anggaran penting, Center for Budget Analysis juga mencatat dalam penggunaan anggaran belanja modal Pemkot Bogor terindikasi banyak diselewengkan. Contohnya dalam proyek pembangunan gedung kantor Kelurahan Bantarjati. Berdasarkan surat perjanjian Nomor 27/448-Bout/VIII/2016, perusahaan yang didaulat mengerjakan proyek ini adalah CV JMS," kata Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA) Jajang Nurjaman saat dikonfrimasi Kabar7 melalui pesan elektronik, Bogor, Sabtu (21/4/2018).

Dia menjelaskan, salah satu pos anggaran penting yang dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor ada dalam belanja modal. Pos ini penting karena terkait pembangunan fasilitas umum yang bisa dinikmati warga Bogor, seperti pembangunan jalan, irigasi dan jaringan, bangunan, serta gedung.

Namun sayang, pihaknya menilai, realisasi pos anggaran belanja modal Pemkot Bogor setiap tahunnya masih jauh dari harapan. Misalnya, belanja modal di tahun 2016, dari targetan awal sebesar Rp701,5 miliar yang tercapai 78,75 persen saja atau senilai Rp552,4 miliar.

Dia mengungkapkan, bahwa CV JMS ditugaskan Pemkot Bogor untuk merampungkan gedung kantor Kelurahan Bantarjati selama 120 hari kerja, dimulai 23 Agustus sampai 20 Desember 2016. Adapun nilai kontrak yang disepakati kedua belah pihak sebesar Rp860.797.800.

"Adapun dugaan penyimpangan yang kami permasalahkan, dalam pengerjaan proyek pembangunan gedung kantor Kelurahan Bantarjati tidak sesuai dengan 'klausul' (Juknis dan Juklak,red.) perjanjian kontrak yang disepakati," ungkapnya.

Berikut detailnya:

Pekerjaan sloof beton 20x15 cm, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 4,11 m3. Namun yang dikerjakan 3,82 m3. Pekerjaan kolom beton 25x25 cm, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 5,31 m3. Namun yang dikerjakan 5,16 m3.

Kemudian, pekerjaan kolom beton 20x20 cm, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 0,56 m3. Namun yang dikerjakan 0,53 m3. Pekerjaan balok beton 20x25 cm dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 0,72 m3. Namun yang dikerjakan 0,32 m3.

Dilanjutkan, pekerjaan ring balok beton 15x15, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 1,78 m3. Namun yang dikerjakan 1,31 m3. Pekerjaan pemasangan dinding bata, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 399,96 m2. Namun yang dikerjakan 392,31 m2.

Selanjutnya, pekerjaan plesteran dinding bata, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 766,56 m2. Namun yang dikerjakan 751,27 m2. Pekerjaan acian dinding bata, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 766,56 m2. Namun yang dikerjakan 751,27 m2.

Lalu, pekerjaan lantai keramik, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 195,75 m2. Namun yang dikerjakan 182,03 m2. Pemasangan dinding keramik WC, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 23,85 m2. Namun yang dikerjakan 20,51 m2.

Kemudian, pemasangan lantai WC, dalam kontrak disepakati volume pekerjaan harus 6,75 m2. Namun yang dikerjakan 5,38 m2.

Jajang menyatakan dari daftar tersebut, jelas ada perbedaan volume yang berakibat kelebihan pembayaran. Hal ini bertentangan dengan Perpres No 54 tahun 2010 serta perubahannya tentang pengadaan barang/jasa, misalnya dalam pasal 89 ayat (2a) menjelaskan "Pembayaran untuk pekerjaan konstruksi, dilakukan senilai pekerjaan yang telah terpasang".

"Jika perlu proyek-proyek yang masuk ke dalam pos anggaran belanja modal Pemkot Bogor diselidiki secara keseluruhan karena selain kasus ini dalam catatan CBA masih banyak penyimpangan proyek lainnya," pungkasnya.

(deva/andreas)