Bank Nasional Tidak Biayai Divestasi PT Freeport Indonesia

Bank Nasional Tidak Biayai Divestasi PT Freeport Indonesia
 Ilustrasi (istimewa)
 23 Juli 2018 15:14:37 wib
Share :

Kabar7, Jakarta - PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum menyatakan perbankan nasional tidak ikut membiayai pembelian saham divestasi PT Freeport Indonesia sebesar 51 persen.

Dalam diskusi di Kantor Kementerian Kominfo Jakarta, Senin (23/7/2018), Head of Corporate Communication and Government Relations Inalum, Rendi Witular, menjelaskan, pembelian saham divestasi Freeport senilai 3,85 miliar dolar AS, seluruhnya dibiayai bank asing.

"Semua akan dibiayai oleh bank asing, karena bank nasional kita tidak mau mempengaruhi fluktuasi rupiah. Kami mendapatkan informasi dari regulator yang menyarankan sebaiknya perbankan nasional tidak diikutsertakan," katanya.

Sesuai kesepakatan pokok-pokok perjanjian (head of agreement/HoA) yang ditandatangani pada 12 Juli 2018, Inalum akan membeli saham divestasi Freeport senilaI 3,85 miliar dolar Amerika Serikat.

Perinciannya sebanyak 3,5 miliar dolar AS dialokasikan untuk pembayaran hak partisipasi Rio Tinto di Freeport dan sisanya 350 juta dolar AS untuk membeli saham Indocooper di Freeport.

Setelah perjanjian HoA ditandatangani Inalum, Freeport McMoran Inc, dan Rio Tinto, langkah yang dilakukan adalah melaksanakan perjanjian pengikatan jual beli atau "sales and purchase agreement" (SPA) dan "shareholder agreement" atau perjanjian pemegang saham.

Ia menjelaskan pendanaan melalui bank asing tentu akan lebih memudahkan proses selanjutnya yang dilakukan ketiga pihak.

"Ini transaksinya nanti akan dilakukan di luar, dalam bentuk dolar AS. Pendapatan Inalum dan PTFI juga dalam bentuk dolar, sehingga sama sekali tidak mengganggu nilai tukar rupiah," kata Witular.

Meski tidak menyebutkan jumlah bank asingnya, namun dia menyatakan, sudah banyak bank asing menyatakan ketertarikannya, yang menandakan potensi bisnis tambang Grasberg sangat besar.

"Ada banyak keterlibatan bank asing, memberikan optimisme bahwa potensi bisnis tambang Grasberg besar. Kalau jelek, tidak mungkin bank asing masuk," kata dia.

(antara)